Cerpen BH Ahad: Zero Day yang mengocak kepala
PEKAN Marudi kelihatan seperti lukisan lama yang dibingkai rapat – tenang dari jauh, beriak bila didekati dengan mata yang belum tepu menatap. Sungai memeluk tebingnya seperti kabel panjang yang membawa data seperti talian internet zaman batu; lambat tetapi setia dan lorong sekolahku berbunyi seperti menu utama permainan: klik halus, dengus kipas siling, loceng yang sekejap nyaring dan sekejap tenggelam. Pada umur tujuh belas tahun, aku belajar hidup dalam dua dunia: satu realiti yang berbau kapur tulis dan satu lagi realiti maya yang berbaur sinar neon. Di antara keduanya, ada denyut yang memanggilku dengan janji kemenangan.